Minggu, 23 Desember 2012

Sejarah Wahabi

SEJARAH WAHABI

Menanggapi banyaknya permintaan pembaca tentang sejarah berdirinya Wahabi maka kami berusaha memenuhi permintaan itu sesuai dengan asal-usul dan sejarah perkembangannya semaksimal mungkin berdasarkan berbagai sumber dan rujukan kitab-kitab yang dapat dipertanggungjawabkan, diantaranya, Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, I’tirofatul Jasus AI-Injizy pengakuan Mr. Hempher, Daulah Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan lain-lain.

Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H/1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam.

Kemudian pada tahun 1125 H/1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha’i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.

Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar.

Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawa’iqul Ilahiyah FirRaddi Alal Wahabiyah.

Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi asy-Syafi’i, menulis surat berisi nasehat:
“Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’dham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.“

Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunnah sampai hari ini adalah kelompok terbesar. Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali“ (QS: An-Nisa 115)

Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah waljama’ah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.

Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, “Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?“
Dengan segera dia menjawab, “Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir Ramadhan”
Lelaki itu bertanya lagi “Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu person pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim.“
Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam seribu bahasa. Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.

Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar’iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H/1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya.

Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga.

Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin.

Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh.

Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata: “Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkatku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali. “

Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerjasama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia.

Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad.

Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut.

Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa’ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi.

Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi.

Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi’i yang sudah mapan.

Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma’la (Mekkah), di Baqi’ dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur.

Demikian juga kubah di atas tanah Nabi SAW dilahirkan, yaitu di Suq al-Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta.


klarifikasi,,
bahwa tulisan diatas itu BUKAN tulisan yang dibuat oleh AlHabib Munzir Almusawa. akan tetapi tulisan tersebut ditulis oleh Ustadz Masun Said Alwy , untuk dimuat di Majalah bulanan Cahaya Nabawiy Pasuruan No. 33 Th. III Sya'ban 1426 H / September 2005 M .


kesalahan sejarah tentang syech siti jenar yang menjadi fitnah siapakah syekh siti jenar

KESALAHAN SEJARAH TENTANG SYAIKH SITI JENAR YANG MENJADI FITNAH
SIAPAKAH SYEH SITI JENAR

Oleh: KH.Shohibul Faroji Al-Robbani

syekh siti jenar


Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Sayyid Hasan ’Ali Al-Husaini, dilahirkan di Persia, Iran. Kemudian setelah dewasa mendapat gelar Syaikh Abdul Jalil. Dan ketika datang untuk berdakwah ke Caruban, sebelah tenggara Cirebon. Dia mendapat gelar Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Lemah Abang atau Syaikh Lemah Brit.

Syaikh Siti Jenar adalah seorang sayyid atau habib keturunan dari Rasulullah Saw. Nasab lengkapnya adalah Syekh Siti Jenar [Sayyid Hasan ’Ali] bin Sayyid Shalih bin Sayyid ’Isa ’Alawi bin Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Khan bin Sayyid Abdul Malik Azmat Khan bin Sayyid 'Alwi 'Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad Shohib Mirbath bin Sayyid 'Ali Khali Qasam bin Sayyid 'Alwi Shohib Baiti Jubair bin Sayyid Muhammad Maula Ash-Shaouma'ah bin Sayyid 'Alwi al-Mubtakir bin Sayyid 'Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Sayyid 'Isa An-Naqib bin Sayyid Muhammad An-Naqib bin Sayyid 'Ali Al-'Uraidhi bin Imam Ja'far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam 'Ali Zainal 'Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw.

Syaikh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di Persia, Iran. Sejak kecil ia berguru kepada ayahnya Sayyid Shalih dibidang Al-Qur’an dan Tafsirnya. Dan Syaikh Siti Jenar kecil berhasil menghafal Al-Qur’an usia 12 tahun.

Kemudian ketika Syaikh Siti Jenar berusia 17 tahun, maka ia bersama ayahnya berdakwah dan berdagang ke Malaka. Tiba di Malaka ayahnya, yaitu Sayyid Shalih, diangkat menjadi Mufti Malaka oleh Kesultanan Malaka dibawah pimpinan Sultan Muhammad Iskandar Syah. Saat itu. KesultananMalaka adalah di bawah komando Khalifah Muhammad 1, Kekhalifahan Turki Utsmani. Akhirnya Syaikh Siti Jenar dan ayahnya bermukim di Malaka.

Kemudian pada tahun 1424 M, Ada perpindahan kekuasaan antara Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sekaligus pergantian mufti baru dari Sayyid Sholih [ayah Siti Jenar] kepada Syaikh Syamsuddin Ahmad.

Pada akhir tahun 1425 M. Sayyid Shalih beserta anak dan istrinya pindah ke Cirebon. Di Cirebon Sayyid Shalih menemui sepupunya yaitu Sayyid Kahfi bin Sayyid Ahmad.

Posisi Sayyid Kahfi di Cirebon adalah sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dari sanad Utsman bin ’Affan. Sekaligus Penasehat Agama Islam Kesultanan Cirebon. Sayyid Kahfi kemudian mengajarkan ilmu Ma’rifatullah kepada Siti Jenar yang pada waktu itu berusia 20 tahun. Pada saat itu Mursyid Al-Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyah ada 4 orang, yaitu:

1. Maulana Malik Ibrahim, sebagai Mursyid Thariqah al-Mu’tabarah al-Ahadiyyah, dari sanad sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, untuk wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan sekitarnya
2. Sayyid Ahmad Faruqi Sirhindi, dari sanad Sayyidina ’Umar bin Khattab, untuk wilayah Turki, Afrika Selatan, Mesir dan sekitarnya,
3. Sayyid Kahfi, dari sanad Sayyidina Utsman bin ’Affan, untuk wilayah Jawa Barat, Banten, Sumatera, Champa, dan Asia tenggara
4. Sayyid Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Ja’far al-Bilali, dari sanad Imam ’Ali bin Abi Thalib, untuk wilayah Makkah, Madinah, Persia, Iraq, Pakistan, India, Yaman.

Kitab-Kitab yang dipelajari oleh Siti Jenar muda kepada Sayyid Kahfi adalah Kitab Fusus Al-Hikam karya Ibnu ’Arabi, Kitab Insan Kamil karya Abdul Karim al-Jilli, Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali, Risalah Qushairiyah karya Imam al-Qushairi, Tafsir Ma’rifatullah karya Ruzbihan Baqli, Kitab At-Thawasin karya Al-Hallaj, Kitab At-Tajalli karya Abu Yazid Al-Busthamiy. Dan Quth al-Qulub karya Abu Thalib al-Makkiy.

Sedangkan dalam ilmu Fiqih Islam, Siti Jenar muda berguru kepada Sunan Ampel selama 8 tahun. Dan belajar ilmu ushuluddin kepada Sunan Gunung Jati selama 2 tahun.

Setelah wafatnya Sayyid Kahfi, Siti Jenar diberi amanat untuk menggantikannya sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dengan sanad Utsman bin ’Affan. Di antara murid-murid Syaikh Siti Jenar adalah: Muhammad Abdullah Burhanpuri, Ali Fansuri, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Pasai, Abdul Ra’uf Sinkiliy, dan lain-lain.


KESALAHAN SEJARAH TENTANG SYAIKH SITI JENAR YANG MENJADI FITNAH adalah:

1. Menganggap bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Sejarah ini bertentangan dengan akal sehat manusia dan Syari’at Islam. Tidak ada bukti referensi yang kuat bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Ini adalah sejarah bohong. Dalam sebuah naskah klasik, Serat Candhakipun Riwayat jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm. 1, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas, “Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia yang akrab dengan rakyat jelata, bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….

2. “Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti” yang diidentikkan kepada Syaikh Siti Jenar oleh beberapa penulis sejarah Syaikh Siti Jenar adalah bohong, tidak berdasar alias ngawur. Istilah itu berasal dari Kitab-kitab Primbon Jawa. Padahal dalam Suluk Syaikh Siti Jenar, beliau menggunakan kalimat “Fana’ wal Baqa’. Fana’ Wal Baqa’ sangat berbeda penafsirannya dengan Manunggaling Kawulo Gusti. Istilah Fana’ Wal Baqa’ merupakan ajaran tauhid, yang merujuk pada Firman Allah: ”Kullu syai’in Haalikun Illa Wajhahu”, artinya “Segala sesuatu itu akan rusak dan binasa kecuali Dzat Allah”. Syaikh Siti Jenar adalah penganut ajaran Tauhid Sejati, Tauhid Fana’ wal Baqa’, Tauhid Qur’ani dan Tauhid Syar’iy.

3. Dalam beberapa buku diceritakan bahwa Syaikh Siti Jenar meninggalkan Sholat, Puasa Ramadhan, Sholat Jum’at, Haji dsb. Syaikh Burhanpuri dalam Risalah Burhanpuri halaman 19 membantahnya, ia berkata, “Saya berguru kepada Syaikh Siti Jenar selama 9 tahun, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa dia adalah pengamal Syari’at Islam Sejati, bahkan sholat sunnah yang dilakukan Syaikh Siti Jenar adalah lebih banyak dari pada manusia biasa. Tidak pernah bibirnya berhenti berdzikir “Allah..Allah..Allah” dan membaca Shalawat nabi, tidak pernah ia putus puasa Daud, Senin-Kamis, puasa Yaumul Bidh, dan tidak pernah saya melihat dia meninggalkan sholat Jum’at”.

4. Beberapa penulis telah menulis bahwa kematian Syaikh Siti Jenar, dibunuh oleh Wali Songo, dan mayatnya berubah menjadi anjing. Bantahan saya: “Ini suatu penghinaan kepada seorang Waliyullah, seorang cucu Rasulullah. Sungguh amat keji dan biadab, seseorang yang menyebut Syaikh Siti Jenar lahir dari cacing dan meninggal jadi anjing. Jika ada penulis menuliskan seperti itu. Berarti dia tidak bisa berfikir jernih. Dalam teori Antropologi atau Biologi Quantum sekalipun.Manusia lahir dari manusia dan akan wafat sebagai manusia. Maka saya meluruskan riwayat ini berdasarkan riwayat para habaib, ulama’, kyai dan ajengan yang terpercaya kewara’annya. Mereka berkata bahwa Syaikh Siti Jenar meninggal dalam kondisi sedang bersujud di Pengimaman Masjid Agung Cirebon. Setelah sholat Tahajjud. Dan para santri baru mengetahuinya saat akan melaksanakan sholat shubuh.“

5. Cerita bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh Sembilan Wali adalah bohong. Tidak memiliki literatur primer. Cerita itu hanyalah cerita fiktif yang ditambah-tambahi, agar kelihatan dahsyat, dan laku bila dijadikan film atau sinetron. Bantahan saya: “Wali Songo adalah penegak Syari’at Islam di tanah Jawa. Padahal dalam Maqaashidus syarii’ah diajarkan bahwa Islam itu memelihara kehidupan [Hifzhun Nasal wal Hayaah]. Tidak boleh membunuh seorang jiwa yang mukmin yang di dalam hatinya ada Iman kepada Allah. Tidaklah mungkin 9 waliyullah yang suci dari keturunan Nabi Muhammad akan membunuh waliyullah dari keturunan yang sama. Tidak bisa diterima akal sehat.”

Penghancuran sejarah ini, menurut ahli Sejarah Islam Indonesia (Azyumardi Azra) adalah ulah Penjajah Belanda, untuk memecah belah umat Islam agar selalu bertikai antara Sunni dengan Syi’ah, antara Ulama’ Syari’at dengan Ulama’ Hakikat. Bahkan Penjajah Belanda telah mengklasifikasikan umat Islam Indonesia dengan Politik Devide et Empera [Politik Pecah Belah] dengan 3 kelas:
1) Kelas Santri [diidentikkan dengan 9 Wali]
2) Kelas Priyayi [diidentikkan dengan Raden Fattah, Sultan Demak]
3) Kelas Abangan [diidentikkan dengan Syaikh Siti Jenar]

Wahai kaum muslimin melihat fenomena seperti ini, maka kita harus waspada terhadap upaya para kolonialist, imprealis, zionis, freemasonry yang berkedok orientalis terhadap penulisan sejarah Islam. Hati-hati jangan mau kita diadu dengan sesama umat Islam. Jangan mau umat Islam ini pecah. Ulama’nya pecah. Mari kita bersatu dalam naungan Islam untuk kejayaan Islam dan umat Islam.

Kamis, 06 Desember 2012

Candaan keren ala Rasulallah saw



Sebagai Panutan umat,Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun melakukan apa yang itu dinamakan Bercanda. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengajak istri dan para sahabatnya bercanda dan bersenda gurau untuk mengambil hati serta membuat mereka gembira. Namun canda beliau tidak berlebihan, tetap ada batasnya. Bila tertawa, beliau tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. Begitu pula dalam bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam beberapa hadits yang menceritakan seputar bercandanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, 
“Aku belum pernah melihat Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan amandelnya, namun beliau hanya tersenyum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pun menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, 
“Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau bersama kami?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya, “Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Imam Ahmad. Sanadnya Shahih)


Tak ada Nenek-nenek didalam Surga
Rasulullah SAW juga pernah bergurau dengan nenek-nenek tua yang datang dan berkata, “Doakan aku kepada Allah agar Allah memasukkan aku ke surga .” Maka Nabi SAW berkata kepadanya, “Wahai Ummu Fulan! Sesungguhnya surga itu tidak dimasuki orang yang sudah tua .” Maka wanita tua itu pun menangis , karena ia memahami apa adanya. Kemudian Rasulullah SAW memahamkannya, bahwa ketika dia masuk surga, tidak akan masuk surga sebagai orang yang sudah tua, tetapi berubah menjadi muda belia dan cantik. Lalu Nabi SAW membaca firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (wanita-wanita surga) itu dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS Al Waqi’ah: 35-37)

Undangan dari orang yang matanya ada "Putih-putih"
Zaid bin Aslam berkata, Ada seorang wanita bernama Ummu Aiman datang ke Rasulullah SAW berkata, “Sesungguhnya suamiku mengundangmu.” Nabi berkata, “Siapakah dia, apakah dia orang yang matanya ada putih-putihnya?.” Ia berkata, “Demi Allah tidak ada di matanya putih-putih!.” Maka Nabi berkata. “Ya, di matanya ada putih-putih.” Maka wanita itu berkata, “Tidak, demi Allah.” Nabi berkata, “Tidak ada seorang pun kecuali di matanya ada putih-putihnya.” (Az-Zubair bin Bakar dalam “Al Fakahah wal Mizah” dan Ibnu Abid-Dunya).

Yang dimaksud dalam hadits ini adalah putih yang melingkari hitamnya bola mata.


Kurma dan Bijinya
Suatu ketika, Rasulullah saw dan para sahabat ra sedang ifthor. Setiap kali mereka makan sebuah kurma, biji- biji sisanya mereka sisihkan di tempatnya masing- masing. Beberapa saat kemudian, Ali menyadari bahwa dia memakan terlalu banyak kurma. Biji- biji kurma sisa mereka menumpuk lebih banyak di sisi Ali dibandingkan di sisi Rasulullah. Maka Ali pun secara diam- diam memindahkan biji-biji kurma tersebut ke sisi Rasulullah. Kemudian Ali ra dengan tersipu-sipu mengatakan, 
“Wahai Nabi, engkau memakan kurma lebih banyak daripada aku. Lihatlah biji-biji kurma yang menumpuk di tempatmu.” Nabi pun tersenyum dan menjawab, “Ali, kamulah yang memakan lebih banyak kurma. Aku memakan kurma dan masih menyisakan biji-bijinya. Sedangkan engkau, memakan kurma berikut biji-bijinya”. (HR. Bukhori)


Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu. Ia pun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.” (Lihat Silsilah Ahadits Shahihah, no hadits 70)


Unta dari Ibu Unta
Seseorang sahabat mendatangi Rasulullah SAw, dan dia meminta agar Rasulullah SAW membantunya mencari unta untuk memindahkan barang-barangnya. Rasulullah berkata : “Kalau begitu kamu pindahkan barang-barangmu itu ke anak unta di seberang sana”. Sahabat bingung bagaimana mungkin seekor anak unta dapat memikul beban yang berat. “Ya Rasulullah, apakah tidak ada unta dewasa yang sekiranya sanggup memikul barang-barang ku ini?”. Rasulullah menjawab, “Aku tidak bilang anak unta itu masih kecil, yang jelas dia adalah anak unta. Tidak mungkin seekor anak unta lahir dari ibu selain unta” . Sahabat tersenyum dan dia-pun mengerti canda Rasulullah. (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi. Sanad sahih)


Siapa Manusia yang mau membeli Budak
Seorang sahabat bernama Zahir, dia agak lemah daya pikirannya. Namun Rasulullah mencintainya, begitu juga Zahir. Zahir ini sering menyendiri menghabiskan hari-harinya di gurun pasir. Sehingga, kata Rasulullah, “Zahir ini adalah lelaki padang pasir, dan kita semua tinggal di kotanya”. Suatu hari ketika Rasulullah sedang ke pasar, dia melihat Zahir sedang berdiri melihat barang-barang dagangan. Tiba-tiba Rasulullah memeluk Zahir dari belakang dengan erat. 
Zahir: “Heii……siapa ini?? lepaskan aku!!!”,
Zahir memberontak dan menoleh ke belakang, ternyata yang memeluknya Rasulullah. Zahir-pun segera menyandarkan tubuhnya dan lebih mengeratkan pelukan Rasulullah. Rasulullah berkata: “Wahai umat manusia, siapa yang mau membeli budak ini??” Zahir: “Ya Rasulullah, aku ini tidak bernilai di pandangan mereka” Rasulullah: “Tapi di pandangan Allah, engkau sungguh bernilai Zahir. Mau dibeli Allah atau dibeli manusia?” 
Zahir pun makin mengeratkan tubuhnya dan merasa damai di pelukan Rasulullah. (Riwayat Imam Ahmad dari Anas ra)
 Teladan kita, Rasulullah SAW, adalah orang yang senang menebarkan kegembiraan dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia. Walapun beliau menghadapi berbagai kesusahan yang beraneka ragam, namun beliau juga bergurau dalam batasan tidak berbicara sesuatu kecuali yang benar. Solawat serta salam semoga selalu tercurah kepada teladan kita Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Manusia yang beribadah selama 500 tahun



Dari Jabir r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. telah memberitahu kami bahwa Malaikat Jibrail telah memberitahu Rasulullah s.a.w katanya:

”Wahai muhammad demi Allah yang mengutusmu sebagai nabi yang besar, sesungguhnya ada seorang hamba Allah yang beribadah selama 500 tahun diatas sebuah bukit yang luas, panjangnya bukit itu 30 puluh hasta kali 30 hasta dan disekelilingnya ialah air laut yang seluas 4,000 farsakh dari tiap penjuru. Dan di situ Allah s.w.t mengeluarkan air selebar satu jari dan dari bawah bukit dan Allah s.w.t juga telah menghidupkan satu pohon delima yang setiap hari mengeluarkan sebiji buah delima. Apabila tiba waktu sore hamba Allah itu pun memetik buah delima itu dan memakannya, setelah itu ia pun shalat. Dalam shalatnya ia telah meminta kepada Allah s.w.t. supaya mematikannya ketika ia dalam sujud, agar tubuhnya tidak disentuh oleh Bumi atau apa-apa saja hingga tiba hari kebangkitan. Maka Allah s.w.t. pun menerima permintaanya.

Berkatalah malaikat lagi: ”Oleh itu setiap kali kami naik turun dari langit kami melihatnya sedang sujud, kami diberitahu bahwa ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan dihadapkan kepada Allah s.w.t.

Lalu Allah s.w.t. menyuruh Malaikat: ”masukkanlah hambaku itu ke dalam syurga dengan limpahan rahmat-Ku”.

maka berkata orang itu: ”Dengan disebabkan amalku?”

Maka Allah s.w.t. menyuruh malaikat menghitung semua amalnya dengan nikmat yang Allah s.w.t. berikan. Apabila penghitungan dilakukan maka amal yang dilakukan oleh orang itu selama 500 tahun itu telah habis saat dihitung dengan sebelah mata, yakni nikmat pengelihatan yang Allah s.w.t. berikan padanya, sedangkan nikmat-nikmat lain belum dihitung.

Maka Allah s.w.t. berfirman: ”Masukkan ia kedalam neraka”.

Saat ia ditarik ke neraka maka ia pun berkata: ”Ya Allah, masukkanlah aku ke dalam syurga dengan rahmat-Mu.”
Lalu Allah s.w.t. berfirman kepada malaikat: ”Bawakan ia ke sini”.

Kemudian Allah s.w.t. bertanya orang itu: ”Siapakah yang menjadikan kamu dari tidak ada”

Lalu orang itu menjawab: ”Engkau ya Allah”.
Kemudian Allah s.w.t. bertanya lagi: ”Apakah itu karena amalmu atau rahmat-Ku?”

Jawab orang itu: ”Ya Allah, dengan rahmat-Mu.”

Allah s.w.t. bertanya lagi: ”Siaapakah yang memberikan kekuatan hingga 500 tahun kamu beribadah?”.

Jawab orang itu: ”Engkau ya Allah”.

Allah s.w.t. bertanya lagi: ”Siapakah yang menempatkan kamu diatas bukit yang di tengah-tengah lautan, dan siapakah yang mengeluarkan air tawar yang bersih dari tengah-tengah lautan yang airnya sangat masin dan siapakah yang menumbuhkan sebuah pohon delima yang mengeluarkan sebiji delima setiap hari, padahal buah itu hanya berbuah setahun sekali lalu kamu meminta supaya aku matikan kamu dalam sujud, jadi siapakah yang membuat semua itu?”

Lalu orang itu berkata: ”Ya Allah, ya Tuhanku engkaulah yang melakukanya.”
Allah s.w.t. berfirman: ”Maka semua itu adalah dengan rahmat-Kku dan kini aku masukkan kamu ke dalam syurga bersama dengan rahmatKu.”

Malaikat Jibrail berkata: ”Segala sesuatu itu terjadi hanya dengan rahmat Allah s.w.t.”

Amal yang dilakukan oleh seseorang itu tidak akan dapat menyamai walaupun setitik debu sekalipun dengan nikmat yang Allah s.w.t. berikan pada hambanya, oleh itu janganlah mengharapkan amal kita itu akan dapat memasukkan kita ke dalam syurga Allah s.w.t. sebaliknya memohonlah dengan rahmatnya.

Sebab hanya dengan rahmat Allah s.w.t. sajalah seseorang itu dapat memasuki syurganya. Apabila kita memohon kepada Allah s.w.t. supaya dimasukkan ke dalam syurga dengan rahmatnya maka mintalah supaya Allah s.w.t. memasukkan kita dengan rahmatnya ke dalam syurga FIRDAUS. Insya’Allah.

Rabu, 05 Desember 2012

Manaqib Sayidina Husein Bin Ali Ra

Makam sayidina Husein bin Ali Ra

Imam Husein dilahirkan di Madinah, selasa 5 sya’ban 4 H / 584 M; ibunya Sayyidah Fatimah adalah putri kesayangan Rasulullah SAW; Sedangkan ayahandanya, Ali bin Abi Thalib adalah seorang tokoh terkemuka di awal dakwah islam. Beliau dibesarkan oleh. Pasangan sejoli yang menerima asuhan langsung dari Rasulullah SAW. Nama Husein merupakan tasghir (“pengecilan”) dari nama kakaknya Hasan, yang dua-duanya berarti “bahagia”. Beliau adalah cucu tersayang Rasullah.
Pernah suatu hari, Rasulullah SAW menunaikan shalat dan sangat lama melakukan sujud. Bukan hanya karena ingin lebih dekat kepada Allah SWT, melainkan juga karena menjaga agar Husein dan kakaknya Hasan tidak terjatuh dari punggung beliau. Ketika itu kedua cucunda tengah bermain-main di punggung kakekanda yang mulia. Sungguh kasih sayang yang luar biasa. Nabi sangat mencintai kedua cucunda, sehingga kehidupan mereka seperti kehidupan malaikat; berada dalam naungan Allah SWT. Di masa kanak-kanak, mereka mendapat ucapan-ucapan wahyu di lingkungan kenabian. Rasulullah SAW memberi mereka pelajaran dan cara hidup islami. Sementara dari lingkungan kedua orang tua, mengambil suri teladan yang mulia. Dalam lingkungan yang mulia seperti itulah Hasan dan Husein hidup berdampingan.
Abu Hurairah bercerita : “Rasulullah Saw datang kepada kami bersama ke dua cucu beliau, Hasan dan Husein. Yang pertama di bahu beliau yang satu, yang ke dua di bahu beliau yang lain. Sesekali Rasulullah menciumi mereka, sampai berhenti di tempat kami berada. Kemudian beliau bersabda :

”Barang siapa mencintai keduanya ( Hasan dan Husein ) berarti juga mencintai daku; barang siapa membenci keduanya berarti juga membenci daku”.

Pada hadits yang lain :

حسين منّى وانا من حسين, احبّ اللّه من احبّ حسينا, حسين سبط من الأسباط.
( رواه التّرمذى )
“Husein adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian dari diri Husein. Semoga Allah swt mencintai orang yang mencintai Husein. Husein adalah salah satu cucu diantara para cucuku”.
( HR. Turmudzi )

الحسن والحسين ريحنتاي من الدّنيا. ( رواه احمد,..)
“Hasan dan Husein adalah dua wewangian saya dari dunia.”
( HR. Ahmad, Ibnu Adi, Ibnu Asakir dan Turmudzi )

من سرّه ان ينظر الى سيّد شباب اهل الجنّة فتينظر الى الحسين. ( رواه ابو يعلى )
“Barangsiapa yang senang melihat junjungan ( Sayyid ) para penduduk surga, maka hendaklah ia melihat kepada Husein.”
( HR. Abu Ya’la )

“Ya Allah aku memohokan perlindungan kepadamu untuk Husein dan anak cucunya dari godaan syetan yang terkutuk.”

“Ahli Baitku yang paling kucintai adalah Hasan dan Husein.”

Pada hari ketujuh kelahiran Sayyidina Husein, Rasulullah SAW menyembelih dua ekor kambing kibas berwarna putih keabu-abuan sebagai aqiqah. Kemudian beliau memberikan dua paha kambing itu kepada hadirin, lalu mencukur rambut Husein serta menimbangnya dengan perak. Selanjutnya perak itu disedekahkan kepada faqir miskin. Lalu beliau mengurapi kepala cucunda dengan pacar, sebagaimana yang pernah beliau lakukan kepada Sayyidina Hasan.
Sejak kecil Sayyidina Husein sudah menunjukkan bakat sebagai ilmuwan, perajurit dan orang yang sholeh. Bersama kakaknya, bakat sang adik kian berkembang, selama masa pemerintahan empat kholifah pertama. Sifat mereka yang luhur mendapat penghargaan dan perhatian yang besar dari para kholifah.

Kepribadian Imam Husein

Sayyidina Husein memiliki beberapa gelar. Yaitu :

• Az-Zaki ( yang suci )
• Ar-Rosyid ( yang cerdik )
• Ath-Thoyyib ( yang baik )
• Al-Wafi ( yang setia )
• As-Sayyid ( yang amat terhormat )
• At-Tabi’Limardlotillah ( yang mengikuti keridloan Allah swt )
• As-Sibth ( cucu Rasulullah )

Ulama meriwayatkan bahwa Sayyidina Hasan adalah orang yang paling mirip Rasulullah antara dada sampai kepalanya; sedangkan Sayyidina Husein adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah saw antara leher sampai bagian tengah badannya.
Berkali-kali Sayyidina Husein dan Sayyidina Hasan naik di atas punggung Nabi saw, ketika keduanya sedang bercanda ria bersama beliau. Bahkan seringkali hal itu dilakukan ketika Nabi saw sedang bersujud di waktu shalat. Maka beliaupun tetap bersujud sampai keduanya turun dari punggung beliau. Seorang penyair berkata :

“Siapakah di alam semesta ini orang yang bisa mendapatkan punggung Nabi Muhammad seperti Husein,
Ia berhasil mendapatkannya dengan jalan terpuji. “

Sayyidatuna Fatimah Az-Zahra ketika mengunjungi Rasulullah saw, pada waktu beliau sakit yang terakhir dengan ditemani oleh putranya Sayyidina Hasan dan Husein. Ia berkata kepada Rasulullah saw :

“Ya Rasulullah ini adalah kedua putramu, maka berilah warisan keduanya.”

Rasulullah bersabda :

“Adapun Hasan maka ia mewarisi kedermawanan dan kewibawaanku, adapun Husein maka ia mewarisi keberanian dan keluhuranku.”
( HR. Ibnu Mandah, Thabrani, Abu Nu’aim dan Ibnu Asakir )

Sayyidina Husein adalah seorang ahli ibadah dan orang yang sangat ta’at, beliau selalu berpuasa dan berqiyamul lail, dermawan, suka menyambung tali persaudaraan, suka menolong orang yang minta tolong kepadanya dan tekun menjalankan perintah tuhannya. Beliau adalah seorang yang sabar menghadapi kesulitan, tabah menerima cobaan, tidak suka marah serta bersedih hati dan tidak suka merasa cemas serta patah semangat.
Para Ulama meriwayatkan bahwa suatu ketika putra Sayyidina Husein meninggal dunia, namun beliau tidak merasa sedih. Maka orang-orang bertanya kepadanya tentang hal itu. Beliau menjawab :
“Sesungguhnya kami para Ahli Bait selalu meminta kepada Allah swt, maka Allah swt mamberi kami. Lalu bilamana Allah swt menghendaki sesuatu yang tidak kami sukai, sedangkan Allah swt menyukainya, maka kami pun merelakannya.”

Latar Belakang Syahidnya Imam Husein Ra

Sesungguhnya orang yang mau mempelajari peristiwa yang menyedihkan ini beserta faktor-faktor pemicunya, tentu akan mengetahui bahwa tangan-tangan bersembunyi yang berlumuran dengan darah-darah kaum muslimin serta kepala-kepala penghianat yang menjadi biang perpecahan kaum muslimin, mereka itulah sebenarnya yang telah memicu terjadinya kejahatan besar ini dan yang telah melakukannya secara keji dan licik. Sebagaimana juga mereka sebelumnya telah mengatur scenario pembunuhan terhadap Kholifah Utsman bin Affan ra; setelah mereka berhasil menyebarkan berita-berita bohong dan membuat surat - surat palsu dengan memakai nama Kholifah Utsman ra, Sayyidina Ali kw serta nama-nama lainnya. Sehingga pada akhirnya mereka berhasil membunuh Kholoifah Utsman ra yang sedang berpuasa dan sedang membaca Al-Qur’an. Beliau tidak mau dilindungi oleh seorangpun dari kalangan para sahabat, agar tidak ada darah seorang muslimpun mengalir gara-gara dirinya.
Dan mereka itulah yang telah menyebabkan terjadinya perang Jamal. Lalu ketika kedua pihak yang sedang bertikai sudah berdamai berkat usaha Qa’ba bin Amr; maka mereka menyulut kembali api peperangan di pagi harinya dan mereka membunuh Sayyidina Thalhah bin Ubaidillah, salah satu dari dari sepuluh orang yang mendapat jaminan surga dari Nabi saw. Padahal Sayyidina Thalhah ketika itu sedang berusaha meleraikan pihak-pihak yang saling bermusuhan. Mereka juga membunuh Sayyidina Zubair yang sedang melakukan Shalat sambil berdoa’ kepada Allah swt agar segera memadamkan api peperangan yang sedang terjadi.
Mereka juga menghasut orang-orang agar membunuh Sayyidatuna Aisyah ra, maka akibatnya ratusan sahabat terbunuh. Dan mereka juga membunuh Ka’ab bin Sur Al ‘Azdi yang telah mengangkat mushaf stas perintah Sayyidatuna Aisyah untuk menghentikan peperangan diantara mereka.
Demikian juga provokasi keji yang telah berhasil memicu terjadinya perang Shiffin, mereka menghalangi sampainya berita-berita dan orang-orang yang berusaha menciptakan hubungan damai.
Setelah berakhirnya peperangan serta diterimanya Tahkim dan setelah terbunuhnya beribu-ribu nyawa para sahabat dan Tabi’in, maka terlihatlah persekongkolan para dalang terjadinya kekacauan ini. Mereka adalah komplotan Abdullah bin Saba’ seorang pendeta besar yahudi dari Yaman yang masuk islam dengan tujuan menhancurkan islam dari dalam. Pada mulanya ia benci kepada Kholifah Utsman bin Affan ra dan berusaha meruntuhkannya serta menggantikannya dengan Sayyidina Ali kaw. Dengan kelicikannya dan provokasinya, usahanya berhasil mendapat respon di kota-kota besar ketika seperti kota Madinah dan Basrah. Kemudian dia pergi ke Mesir, Kufah dan Damsyik serta beberapa kota lain untuk menyebarkan propaganda tentang kemulyaan Sayyidina Ali kw dan menghasut orang-orang agar tidak simpati kepada Kholifah Utsman bin Affan ra.
Abdullah bin Saba’ sangat berlebihan dalam mengagungkan Sayyidina Ali kw, bahkan berani membuat hadits-hadits pasu untuk menjatuhkan Kholifah Utsman ra dan menghinakan Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq dan Sayyidina Umar bin Khottob ra. Diantara ajaran Abdullah bin Saba’ adalah :
1. Al-Wishoyah : Wasiat. Nabi Muhammad saw berwasiat supaya yang menjadi kholifa sesudah beliau wafat adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dan mereka memberi gelar Sayyidina Ali “Al-Washyi”, yakni orang yang diberi wasiat.
2. Ar-Roj’ah : kembali. Ia mengajarkan bahwa Nabi Muhammad saw tidak boleh kalah dari Nabi Isa as. Kalau Nabi Isa as akan kembali di akhir zaman, maka Sayyidina Ali kw akan kembali di akhir zaman untuk menegakkan keadilan. Ia mengajarkan bahwa Sayyidina Ali kw tidak mati terbunuh, beliau akan kembali lagi. Ibnu Hazm, seorang ahli tarikh mengatakan bahwa Abdullah bin Saba’ mengabarkan bahwa Sayyidina Ali belum mati tetapi masih bersembunyi dan akan kembali di akhir zaman. Ajaran ini dibawanya dari kepercayaan kaumyahudi yang mengatakan bahwa Nabi Ilyas juga belum mati. Ajaran inilah yang kemudian menjadi kepercayaan orang Syi’ah, bahwa imannya yang terakhir belum mati, sekarang masih bersembunyi dan pada akhir zaman nanti akan kembali untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.
3. Ilahiyah : ketuhanan. Ajaran ini mengatakan bahwa pada diri Sayyidina ali kw, bersamayam unsur-unsur ketuhanan. Olek karena itu beliau mengetahui segala yang ghaib ( kasyaf ). Abdullah bin Saba’ mengangkat Sayyidina Ali kepada kedudukan Tuhan.

Seorang Ulama dan pengarang dari kalangan Syi’ah Mu’tazilah bernama Ibnu Abil Hadid mengakui bahwa Abdullah bin Saba’ ini adalah seorang pendeta Yahudi yang masuk Islam yang mengobarkan Syia’ah Sabaiyah. Diantara pemuka Syi’ah Sabaiyah ini terdapat seorang bernama Muqiroh bin Said yang memfatwakan bahwa Dzat Tuhan bersemayam pada tubuh Sayyidina Ali kw. Seorang lagi yang bernama Ishak bin Zaid yang memfatwakan bahwa orang-orang yang sudah sampai pada derajat yang tinggi, sudah habis taklif baginya, yaitu sudah tidak lagi wajib sholat, puasa dan berbagai kewajiban lainnya.
Nasib Abdullah bin Saba’ pada akhir hayatnya menjadi orang buangan, yang dibuang oleh Sayyidina Ali kw stelah beliau menjadi Kholifah keempat, beliau marah karena dia membuat fitnah atas diri beliau, dia akhirnya dibuang ke daerah Madain.
Kelompok Abdullah bin Saba’ ini terpisah menjadi 2 ( dua ) kelompok besar, yaitu :
1. Kelompok yang menyatakan bahwa sesungguhnya Sayyidina Ali kw adalah Allah sendiri yang menciptakan segala sesuatu dan memberi rizki. Dalam hal ini, Sayyidina Ali kw mengajak mereka berdialog, namun mereka ternyata bersikeras mempertahankan pendapatnya. Maka akhirnya Sayyidina Ali kw membakar orang– orang yang diketahui dari golongan mereka dengan api. Kemudian golongan mereka berkata : “Seandainya Ali bukan Allah itu sendiri tentu ia tidak membakar mereka dengan api. Karena sesungguhnya tidak akan melakukan pembakaran dengan api kecuali tuhan.” Mereka berkeyakinan bahwa Ali akan menghidupkan mereka, setelah ia membunuh mereka. Mereka inilah orang-orang yang membawa kepercayaan bahwa tuhan melakukan penitisan kepada makhluknya ( Hulul ) beserta cabang-cabang kepercayaan ini meliputi faham-faham yang sesat.
2. Kelompok yang memberontak terhadap Sayyidina Ali kw setelah terjadinya perang Shiffin. Mereka juga menuduh Ali Kafir, karena beliau telah menghentikan peperangan dan menyetujui Tahkim dengan kitabullah dalam menyelesaikan perselisihan yang terjadi Sayyidina Ali kw dan Muawiyah ra. Sebagian dari mereka juga ada yang mengkafirkan ketiga orang Khalifah sebelum Sayyidina Ali. Mereka ini telah membunuh seorang Tabi’in besar yang bernama Abdullah bin Khobbab ra dan istrinya, karena ia memuji keempat Khulafaur Rasyidin. Kemudian ketika Sayyidina Ali kw meminta agar mereka menyerahkan para pembunuhnya, mereka menolak sambil berkata: “Kami semua ikut membunuh mereka dan kami semua menganggap halal terhadap darah-darah kalian dan darah-darah mereka semua.”

Gugur Syahidnya Sayyidina Husein ra

Ketika Muawiyah memberontak, kekholifahan islam terbagi dua : satu di pimpin Imam Ali, lainnya dibawah Muawiyah. Muawiyah adalah famili Kholifah Usman bin Affan, yang sebelumnya menjabat gubernur Damaskus. Ia, sebagaimana keluarga Sayyidina Utsman yang lain, mencurigai Sayyidina Ali terlibat komplotan pembunuh Kholifah Ustman.
Ketika Imam Ali syahid terbunuh, terbukalah peluang bagi Muawiyah untuk menuju jenjang kekuasaan. Demi keutuhan umat islam, Imam Hasan yang menggantikan ayahandanya, berkompromi atau lebih tepat mengalah, dengan menyerahkan kekuasaan kepada kepada Muawiyah. Tapi belakangan Imam Hasan justru diracun hingga wafat pada tahun 50 H / 630 M; beliau meninggal setelah diracun istri mudanya sendiri, Ja’dah binti Al-As’as, atas hasutan kelompok Muawiyah, dengan janji akan mendapat hadiah 100.000 dirham.
Ketika itulah banyak kalangan mendesak Imam Husein agar memberontak terhadap Kholifah Muawiyah. Tapi, beliau hanya menjawab pendek,
“selama Muawiyah masih hidup, tak ada yang bisa diperbuat, karena begitu kuatnya kholifah itu.”
Di lain pihak, Muawiyah tak terlalu khawatir mendengar isu pemberontakan tersebut dari Gubernur Hijaz, Marwan bin Hakam. Ia bahkan minta Marwan mendekati Imam Husein secara baik-baik.
Pada tahun-tahun terakhir kekuasaannya sebagai kholifah; Muawiyah merobohkan sendi-sendi demokrasi. Mengikuti saran Mughira, gubernur Basrah, ia mengangkat Yazid sebagai penggantinya. Dengan pengangkatan ini, demokrasi dalam islam menjadi monarki, karena Yazid tiada lain anak Muawiyah. Tindakan itu juga melanggar perjanjian dengan Imam Hasan bahwa pengangkatan kholifah harus melalui pemilihan yang demokratis.

“Dua orang telah menimbulkan kekacauan di kalangan kaum muslimin : Amr bin Ash, yang menyarankan Muawiyah mengangkat Al qur’an di ujung lembing, ketika hendak berunding dengan Imam Ali; dan Mughira, yang menyarankan agar Muawiyah mengangkat Yazid sebagai kholifah. Jika tidak, tentulah akan terbentuk sebuah dewan Pemilihan”
kata Imam Hasan dari Basrah.

Yazid naik tahta pada bulan April 683 M ( Muawiyah wafat tahun 60 H ). para sejarawan menilai, Yazid ini tidak layak diangkat sebagai kholifah. Bukan hanya terlalu mementingkan kehidupan duniawi, tapi juga karena dia tidak terlalu dekat dengan ulama. Namun dengan licik, ia berusaha memperkuat kekuasaan dengan cara minta sumpah setia dari para ulama, termasuk Imam Husein, yang mewarisi keshalehan dan kesatriaan ayahandanya, Imam Ali, tidak mudah dipaksa atau dibujuk dengan berbagai hadiah. Secara bersama, tiga sahabat yang cukup berpengaruh, yaitu Abdullah bin Umar, Abdurrahman bin Abu Bakar dan Abdullah bin Zubair, terang-terangan menolak Yazid.
Melalui walid bin Utba, gubernur Madinah, Yazid memerintahkannya agar menyuruh seluruh penduduk Madinah untuk membai’at Yazid. Mereka yang menolak pembai’atan Yazid, termasuk Sayyidina Husein menyingkir ke Makkah. Selama menetap di Makkah, Sayyidina Husein menerima kiriman surat-surat dari penduduk Kufah serta utusan-utusan mereka. Para utusan ini meminta kepada Sayyidina Husein agar beliau bersedia datang ke Kufah untuk menerima bai’at dari mereka. Karena itulah Sayyidina Husein bermaksud mendatangi mereka; tapi Sayyidina Abdullah bin Abbas dan Abdullah in Umar menasehati beliau agar tidak mendatangi mereka, karena keduanya telah mengetahui sikap orang-orang Kufah dan sebagian orang Iraq yang suka berkhianat. Namun Sayyidina Husein ra berbaik sangka kepada orang-orang yang berkirim surat kepadanya, maka beliau tetap ingin mendatangi penduduk Kufah.
Kemudian berangkatlah Sayyidina Husein dari Makkah menuju Kufah pada hari Tarwiyah, namun sebelumnya sepupunya yang bernama Muslim bin Aqil bin Abi Thalib telah berangkat lebih dahulu. Akhirnya Sayyidina Husein dibai’at oleh orang-orang Kufah sebanyak 12.000.orang. Akan tetapi tidak berapa lama kemudian, mereka bercerai berai meninggalkan Sayyidina HUsein ketika tindakan mereka ini diketahui oleh Ubaidillah bin Ziyad, penguasa Kufah yang menjadi bawahan Yazid bin Muawiyah. Ubaidillah kemudian menangkap Muslim bin Aqil dan membunuhnya.
Berita terbunuhnya Muslim ini terdengar oleh Sayyidina Husein, ketika beliau sampai di dekat Qadisiyah. Maka saudara-saudara Muslim berkata :
“Kita tidak akan kembali, sehingga kita menuntut balas terhadap kematian saudara kita Muslim bin Aqil atau lebih kita terbunuh.”
Lalu Sayyidina Husein berkata “
“Tidak ada lagi keuntungan hidup sepeninggal kalian.”
Dan Sayyidina Husein memberitahu kepada orang-orang yang menyertainya tentang peristiwa yang telah terjadi serta beliau mengumumkan bahwa barangsiapa yang ingin pergi, maka hendaklah ia segera pergi. Maka mereka segera memisahkan diri, sehingga Sayyidina Husein hanya ditemani oleh sahabat-sahabatnya yang dating bersama dengan dirinya dari Makkah. Mereka berjumlah 70 orang, diantaranya terdapat 30 orang berkuda. Ketika itu Ubaidillah bin Ziyad telah mengirimkan komandan pasukannya yang bernama Hushoin bin Tamin At-Tamimi disertai pasukan berkuda.
Hushoin berhenti di Qadisiyah dan mengatur pasukan kudanya untuk mencegah Sayyidina Husein agar tidak bergerak kemana-mana. Demikian halnya Ubaidillah bin Ziyad juga mengirim 1000 orang pasukan berkuda yang dipimpin oleh Hur bin Yazid At-Tamimi untuk menghadang Sayyidina Husein ra agar tidak pulang meninggalkan tempatnya. Maka merekapun dapat menyusul Sayyidina Husein dan mereka berhenti dihadapannya. Peristiwa ini terjadi tengah hari. Sayyidina Husein kemudian tampil berbicara kepada mereka :
“Wahai para manusia, ketahuilah bahwa ini adalah alasan saya kepada Allah swt dan kepada kalian, sesungguhnya saya tidak akan mendatangi kalian seandainya surat-surat kalian dan orang-orang utusan kalian dating ke tempat saya. Mereka telah menyatakan : Hendaklah anda datang ke tempat kami, karena kami tidak mempunyai Imam. Semoga lewat diri anda Allah swt menyatukan kami di atas petunjuknya. Dan saya sekarang telah mendatangi kalian, karena itu bila kalian mau menepati janji-janji kalian yang saya percayai kepada saya, maka saya bersedia datang ke kota kalian. Dan bilamana kalian merasa tidak senang terhadap kedatangan saya ini, maka saya siap kembali ke tempat asal mula kedatangan saya.”
Mereka terdiam. Mendengar pernyataan Imam Husein, Hur bin Yazid ragu. Nuraninya ingin membela Imam Husein, tapi ia bimbang, mengingat kekuatan pasukan Ubaidillah bin Ziyad di Iraq. Apalagi ia juga diperintahkan Gubernur Kufah Ubaidillah bin Ziyad, untuk menggiring Imam Husein ke Karbala, sekitar 25 mil di timur laut Kufah.
Kemudian salah seorang dari pihak Sayyidina Husein mengumandangkan adzan, lalu dilaksanakan sholat dzuhur. Maka Hur bin Yazid ikut sholat bersama Sayyidina Husein. Kemudian Hur kembali ke tempatnya semula. Ketika Sayyidina Husein juga melaksanakan Sholat ‘Ashar. Kemudian beliau mendatangi mereka sambil berkata :
“Bila kalian semua bertaqwa kepada Allah swt serta mengetahui haq seseorang, tentu hal itu lebih membuat Allah swt ridho. Kami para Ahli Bait adalah lebih utama untuk memimpin masalah ini daripada mereka-mereka yang berjalan dengan sikap arogannya dan kedzolimannya. Karena itu, jika kalian merasa tidak senang kepada kami dan kalian bersikap masa bodoh terhadap haq kami serta pendapat kalian sudah tidak lagi seperti yang pernah dibawa oleh surat-surat dan orang-orang utusan kalian kepada saya, maka saya siap pergi meninggalkan kalian!”
Kemudian Sayyidina Husein mengeluarkan dua wadah yang penuh berisi lembaran-lembaran surat, lalu ia sebar di hadapan mereka. Kemudian Hur bin Yazid at Tamimi berkata :
Sesungguhnya kami telah mendapat perintah bila kami sudah bertemu anda agar kami tidak meninggalkan Anda, sehingga kami dapat membawa Anda dating ke Kufah untuk menghadap Ubaidillah bin Ziyad.
Ketika itu Sayyidina Husein mengetahui adanya suatu tipu muslihat serta kebohongan yang besar. Lalu beliau mengajukan tawaran kepada Umar bin Sa’ad selaku panglima pasukan Ubaidillah bin Ziyad, agar Umar membiarkan Sayyidina Husein kembali ke tempat asalnya atau mereka membiarkan Sayyidina melakukan jihad di jalan Allah swt atau mereka bersedia membawa Sayyidina Husein pergi menghadap Yazid bin Muawiyah di Damaskus.
Mereka menolak tawaran Sayyidina Husein ini, kecuali jika Sayyidina Husein bersedia tunduk di bawah perintah Ubaidillah bin Ziyad. Dan tawaran inipun ditolak mentah-mentah oleh Sayyidina Husein ra, karena tidaklah pantas bagi seorang cucu Rasulullah saw serta putra dari seorang Kholifah, untuk menyerahkan diri begitu saja. Beliau bertekad untuk siap perang dengan berijtihad serta berkeyakinan bahwa dirinya sedang berada di atas kebenaran dan sesungguhnya mereka berdiri di atas kebatilan. Kemudian Sayyidina Husein ra berkata :
“Kami telah ditelantarkan oleh para pengikut kami, karena itu barangsiapa diantara kalian yang ingin pergi (meninggalkan kelompok kami ), maka hendaklah ia pergi tanpa ada yang mempersalahkan dan tanpa mendapat kecaman dari pihak kami.”
Maka kebanyakan dari para pengikutnya memisahkan diri dari Sayyidina Husein, sampai akhirnya Sayyidina Husein hanya ditemani oleh keluarganya sendiri dan sahabat-sahabatnya yang datang dari Makkah bersama dirinya. Sayyidina Husein tidak ingin mereka berpihak kepada dirinya, kecuali bila mereka mengetahui terlebih dahulu terhadap apa yang akan mereka hadapi. Sebenarnya Sayyidina Husein telah menyadari, jika beliau menjelaskan permasalahan yang beliau hadapi kepada mereka, tentu beliau tidak akan ditemani selain oleh orang-orang yang benar-benar setia menyertai dirinya untuk menghadapi kematian bersama-sama.
Sayyidina Husein hanya ditemani oleh 70 orang laki-laki termasuk para pengikutnya dari kalangan Ahli Bait. Sedangkan sebagian orang-orang yang menyertainya dari golongan mereka yang menginginkan terjadinya kekacauan sudah menggabungkan diri ke dalam pasukan Ubaidillah bin Ziyad, agar diri mereka selamat dari ancaman maut di depan mata mereka.
Ketika Sayyidina Husein bersama para sahabatnya ingin berangkat menuju ke tempat asal mereka, mereka dihalangi oleh Hur; dan ia berkata kepada Sayyidina Husein :
“Saya ingin membawa pergi anda menghadap Ubaidillah bin Ziyad. Saya diperintahkan agar tidak meninggalkan anda, sehingga saya dapat membawa dating ke Kufah. Karena itu, untuk sementara waktu ambillah jalan yang tidak membawamu masuk ke Kufah. Dan janganlah anda menuju Madinah, sehingga saya berkirim surat dahulu kepada Ubaidillah bin Ziyad, sementara anda berkirim surat kepada Yazid selaku atasan Ubaidillah bin Ziyad. Maka dengan cara ini, mudah-mudahan Allah swt memberikan jalan keluar yang dapat memberikan anugerah keselamatan dari cobaan yang menimpa saya berupa keterlibatan saya dengan urusan anda.”
Maka Sayyidina Husein bergerak meninggalkan jalan Qadisiyah, sedangkan Hur mengiringinya untuk mencegah Sayyidina Husein agar tidak terus pulang.
Ketika telah tiba hari jum’at tanggal 3 Muharram tahun 61 h, datanglah Umar bin Sa’ad bin Abi Waqas dari Kufah dengan diiringi 4.000 orang pasukan berkuda. Pasukan ini kebanyakan terdiri dari orang-orang yang pernah berkirim surat kepada Sayyidina Husein ra dan orang-orang yang pernah membai’atnya. Kemudian Umar menyuruh seorang utusan kepada Sayyidina Husein ra, agar menanyakan kepada Sayyidina Husein tentang alasannya yang telah membawanya kemari, lalu Sayyidina Husein berkata :
“Orang-orang kota kalian telah berkirim surat kepada saya agar dating ke tempat mereka, maka saya melakukannya. Jika kalian tidak senang terhadap hal itu, maka sesungguhnya saya siap pergi dari tempat kalian.”
Kemudian Umar bin Sa’ad melaporkan hal itu kepada Ubaidillah bin Ziyad; lalu Ubaidillah bin Ziyad mengirim perintah kepada Umar agar ia memberikan tawaran kepada Sayyidina Husein untuk bersedia membai’at Yazid; jika Sayyidina Husein mau melakukannya, maka kami akan menentukan sikap kami terhadap terhadap Sayyidina Husein. Namun jika ia tidak bersedia, maka halangilah Sayyidina beserta para pengikutnya dari tempat air. Karena Sayyidina Husein menolak membai’at Yazid, maka mereka menghalangi beliau beserta pengikutnya dari tempat air. Selama 4 hari ( 7-10 Muharram ) rombongan Imam Husein kehausan. Itulah awal kesengsaraan keturunan mulia Rasulullah SAW. Sampai-sampai hal itu membuat Hur bin Yazid, salah seorang komando pasukan Yazid terharu. Pada tanggal 10 Muharram 61 H / 641 M, ia menyaksikan Imam Husein yang sangat sengsara, lunglai, kehausan dan kelaparan.
Umar bin Sa’ad dan Sayyidina Husein berkali-kali mengadakan perundingan, lalu Umar mengirimkan laporan kepada Ubaidillah bin Ziyad yang berbunyi :
“Perlu diketahui bahwa sesungguhnya Allah swt telah memadamkan api kekacauan dan menyatukan semua pandangan. Husein telah memberikan pernyataan kepada saya yaitu ia akan kembali ke tempat asal mula kedatangannya atau anda membiarkan ia mengambil posisi dilokasi tapal batas ( siap tempur ) atau ia boleh mendatangi Yazid untuk mengadakan perdamaian dengannya. Dalam hal ini tentu akan membawa kepuasan bagi anda dan membawa kemaslahatan umat.”
Kemudian Ubaidillah bin Ziyad menyuruh Syamir bin Dzil Jausyan untuk dating kepada Umar dengan membawa surat yang isinya meminta Husein agar tunduk di bawah perintah Ubaidillah bin Ziyad dan memerintahkan agar Umar membawa Husein beserta para pengikutnya untuk menghadap Ubaidillah bin Ziyad; bila Husein menolak maka ia harus diperangi. Selain itu, Ubaidillah bin Ziyad telah berkata kepada Syamir :
“jika Umar bin Sa’ad mau melakukan apa yang kuperintahkan, maka dengarkanlah perintahnya; namun jika ia membangkang maka engkau mengambil alih kepemimpinannya dan tebaslah leher Umar.”
Ubaidillah bin Ziyad di dalam suratnya juga berkata kepada Umar bin Sa’ad :
“Sesungguhnya saya tidak pernah mengirimkan kamu kepada Husein, agar kamu membiarkannya dan tidak pula supaya kamu memberinya harapan serta memperpanjang kesempatannya dan tidak pula supaya kamu berlutut dihadapanku guna memintakan pertolongan untuknya. Perhatikanlah, jika Husein bersama para pengikutnya bersedia tunduk di bawah perintah, maka hadapkanlah mereka kepadaku, lalu jika mereka menolak maka seranglah mereka sehingga kamu dapat membunuh mereka semuanya dan cacahlah tubuh-tubuh mereka, karena sesungguhnya mereka telah berhak menerima hal itu. Kemudian jika Husein telah berhasil dibunuh, maka injaklah dada dan punggungnya dengan kuda-kuda kalian karena sesungguhnya ia adalah seorang yang melakukan tindakan makar, seorang pemberontak, perampok dan orang dzolim. Jika kamu ( Umar ) sanggup melaksanakan perintahkami, maka kami pasti akan memberimu balasan sebagai orang yang menta’ati perintah dan jika kamu membangkang, maka tinggalkanlah pasukan kami serta serahkanlah urusan ini kepada Syamir dan pasukan kami.”
Ketika surat perintah ini diterima Umar bin Sa’ad, maka ia segera memberi komando kepada pasukannya agar segera mempersiapkan diri. Peristiwa ini terjadi setelah ashar. Dan Umar memberitahukan kepada Sayyidina Husein tentang isi surat perintah dari Ubaidillah bin Ziyad; kemudian Husein meminta penundaan kepada mereka sampai besok pagi. Ketika malam telah tiba, maka Sayyidina Husein bersama-sama dengan para sahabatnya menjalankan Qiyamul lail semalam penuh, mereka melakukan Shalat serta beristighfar, berdoa’ dan bertadlarru’ kepada Allah swt. Kemudian ketika Umar bin Sa’ad telah menjalankan shalat subuh pada hari sabtu ( riwayat lain hari Jum’at, hari Asyura 10 muharam ) maka ia mulai melangsungkan peperangan dan mengepung Sayyidina Husein dari semua penjuru. Sayyidina Husein berseru :
“Wahai orang-orang Kufah, saya tidak pernah melihat manusia lebih berkhianat daripada kalian semua; sungguh jelek kalian dan sungguh celaka sekali, binasalah kalian……….binasalah……kalian telah berteriak-teriak kepada kami, lalu kamipun mendatangi kalian, lalu kalian cepat-cepat membai’at kami secepat lalat dan ketika kami telah berada di tempat kalian, maka kalian langsung bertebaran menjauhkan diri seperti laron-laron yang berhamburan. Kalian menghadapi kami dengan hunusan pedang layaknya musuh-musuh kami yang tidak pernah menyebarkan keadilan kepada kalian, padahal tidak ada dosa yang kami perbuat kepada diri kalian, ingatlah….laknat Allah swt pasti menimpa orang-orang yang dzolim.”
Kemudian Sayyidina Husein ra menyerang mereka dan peperangan ini berlangsung sampai dhuhur; lalu Sayyidina Husein menjalankan shalat. Kemudian setelah sholat dhuhur, beliau kembali berperang, sedangkan kebanyakan dari para pengikutnya sudah habis terbunuh. satu demi satu; sahabat, saudara, sepupu, kemenakan Imam Husein wafat sebagai Syuhada dengan tubuh tertancap panah. Yang mula-mula gugur ialah : Ali Akbar bin Imam Husein, Abdullah bin Ja’far, Kasim bin Husein, seorang anak Muslim bin Aqil dan kemenakan Imam Husein.
Yazid bin Harits bertempur membela Sayyidina Husein sampai ia terbunuh. Hur bin Ziyad di pihak pasukan Umar bi Sa’ad akhirnya membelot dan membela Sayyidina Husein, sambil berseru :
“Wahai putra Rasulullah sw, saya adalah orang yang pertama kali bertempur melawan kalian dan sekarang ini saya berada di pihakmu, mudah-mudahan saya bisa mendapatkan syafaat dari kakekmu.”
Lalu ia berperang mati-matian membela Sayyidina Husein sampai ia terbunuh dan akhirnya tinggallah Sayyidina Husein bersama bayinya, Ali Al Asghar. Suatu saat Ali Asghar berteriak-teriak kehausan minta minum. Sambil menggendong anaknya, Imam Husein mendekati lawan, lalu menyampaikan nasehat. Pasukan Yazid bukannya memberikan seteguk air, mereka justru memanah sang bayi yang tak berdosa itu, sehingga mati syahid seketika. Dengan perasaan campur aduk, sedih dan marah, Imam Husein menggendong Asghar yang berdarah-darah ke pangkuan ibunya, Syahr Banu. Ketika itulah beliau tahu, ajalnya menjelang. beliau berperang melawan mereka sampai mereka berhasil melemahkan beliau dengan luka-luka yang banyak dan beliau merasa sangat kehausan, sehingga jatuh ke tanah, lalu seorang laki-laki dari Kindah menyerangnya dengan pedang tepat mengenai kepalanya, maka hal ini membuat darahnya mengalir; kemudian Sayyidina Husein mengambil darah di kepalanya, lalu beliau tuangkan ke tanah sambil berkata :
“Ya Allah bilamana engkau telah menahan pertolonganmu dari langit kepada kami, maka jadikanlah hal itu untuk sesuatu yang terbaik buat kami dan balaslah mereka-mereka yang dzolim ini.”
Sayyidina HUsein merasa haus luar biasa, lalu ia mendekati tempat air untuk minum, tapi Hushain bin Tamim langsung menyerangnya dengan anak panah tepat mengenai mulut Sayyidina Husein, maka Sayyidina Husein berkata :
“Ya Allah bunuhlah Hushain dengan kehausan.”
( Al Allamah Al Juhri berkata : akhirnya Hushain bin Thamim menerima balasan azab berupa rasa panas di dalam perutnya dan rasa kedinginan di punggungnya; sehingga didepannya harus diletakkan es dan kipas, sedangkan di belakang tubuhnya dipasang tempat perapian. Ia menjerit-jerit rasa panas, haus dan dingin. Jika ia minum, tetap tidak merasakan kesegaran/hilang hausnya, walau minum banyak. Hal itu mengakibatkan perutnya menjadi besar dan ia mati setelah beberapa hari wafatnya Sayyidina Husein )
Ketika Sayyidina Husein ra merasa tubuhnya lemah sekali dan tidak mampu bangkit lagi, dikarenakan luka-luka yang banyak, maka beliau memanjatkan doa’ kepadaAllah swt :
Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepadamu terhadap perlakuan yang diberikan kepada cucu Nabi-Mu. Ya Allah hitunglah jumlah mereka dan binasakanlah mereka semua serta janganlah Engkau menyisakan seorangpun dari mereka.”
Ketika melihat keadaan Sayyidina Husein sudah lemah tak berdaya, mereka menyerang Sayyidina Husein dari semua arah; Shor’ah bin Syarik At Tamimi memukul telapak tangan kiri beliau dengan pedang, kemudian Sinan bin Atsan An Nakha’i menusuk beliau dengan tombak, lalu Syamir bin Dzil Jausan memenggal kepala Sayyidina Husein dan membawanya kehadapan Ubaidillah bin Ziyad. Mereka juga menginjak-injak tubuh, punggung dan dada Sayyidina Husein dengan kuda-kuda mereka seperti yang telah diperintahkan Ubaidillah bin Ziyad.
Enam dari tujuh anak-anak Imam Husein Syahid di padang Karbala, juga istri tercintanya, Syahr Banu, salah seorang putri Khosru Yasdajird II dari dinasti Sasanid II, Persia ( Iran ). Empat putranya : Ali Al Akbar, Ali Ausath, Ali Al-Asghar, Abdullah; sedangkan tiga putrinya : Zainab, Sakinah dan Fatimah. Seluruh anak Husein terbunuh, kecuali Ali Ausath yang dibelakang hari terkenal sebagai wali, yaitu Ali Zainal Abidin bin Husein. Dialah satu-satunya keturunan Rasulullah SAW yang selamat dari pembantaian di Karbala.
Ketika pertempuran tak seimbang itu terjadi, Ali Zainal Abidin tengah tergolek sakit di tenda. Beliau hanya ditunggui bibinya, Zainab binti Ali, yang dengan gigih melindunginya ketika beberapa orang anggota pasukan musuh menerobos masuk ke perkemahan yang hanya ditunggui kaum wanita dan anak-anak.
Sayyidatuna Zainab berteriak lantang :
“Apakah kalian tidak menyisakan satu laki-lakipun dari keluarga kami?”
perajurit itu tertegun sebentar, kemudian berbalik arah meninggalkan tenda tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Sementara tubuh Imam Husein dimakamkan di Karbala, kepalanya dimakamkan dengan penuh kehormatan di pemakaman Baqi, Medinah, di sisi makam ibundanya dan kakaknya, Imam Hasan. Menurut riwayat lain, kepala Imam Husein dibawa ke Mesir dan dimakamkan disana.
Ibnu Hajar memberitahukan sebuah hadits dari suatu sumber yang diriwayatkan dari Ali, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda " Pembunuh Husein kelak akan disiksa dalam peti api, yang beratnya sama dengan siksaan separuh penduduk dunia."
Abu Na'im meriwayatkan bahwa pada hari terbunuhnya Sayyidina Husein, terdengar Jin meratap dan pada hari itu juga terjadi gerhana matahari hingga tampak bintang-bintang di tengah hari bolong. Langit di bagian ufuk menjadi kemerah-merahan selama enam bulan, tampak seperti warna darah.
Sayyidina Husein sungguh telah memasuki suatu pertempuran menentang orang yang bathil dan mendapatkan syahidnya di sana. Menurut al-Amiri, Sayidina Husein dikarunia 6 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Dan dari keturunan Sayyidina Husein yang meneruskan keturunannya hanya Ali al-Ausath yang diberi gelar 'Zainal Abidin'. Sedangkan Muhammad, Ja'far, Ali al-Akbar, Ali al-Ashgor , Abdullah, tidak mempunyai keturunan (ketiga nama terakhir gugur bersama ayahnya sebagai syahid di karbala). Sedangkan anak perempuannya adalah: Zainab, Sakinah dan Fathimah.

Kekuasaan Yazid dan keturunannya tidak lama. Mukhtar bin Abi Ubaid Ats Tsaqafi berhasil membunuh Ubaidillah bin Ziyad dan Umar bin Sa’ad bin Abi Waqas dan membunuh satu persatu para pembunuh Sayyidina Husein yang lainnya; sehingga ia dapat menghabisi mereka semua.
Makam Imam Husein di Karbala, sudah diziarahi sejak empat tahun setelah Imam Husein syahid. Peziarah pertama pada 65 H / 654 M ialah Sulaiman bin Murad, salah seorang ulama generasi awal asal Madinah. Menurut sejarawan Ibnu Asir dalam kitabnya Al Kamil fi at-Tarikh li Ibn Asir, sejak 436 H / 1016 M kedatangan para peziarah di Karbala semakin meningkat. Ketika itu upacara ritual di Karbala mendapat dukungan dari seorang dermawan bernama Ummu Musa, yang tidak lain adalah Ibunda Khalifah Al-Mahdi dari Dinasti Abbasiyah ( 159-169 H/ 739-749 ).
Tapi lebih dari setengah abad kemudian, Khalifah Mutawakkil ( 232-247 H / 812-827 M ) menghancurkan kubah makam Imam Husein pada tahun 236 H / 816 M, dan menghukum berat para peziarah yang datang ke makam tersebut. Kebijakan ini dibuat, hanya karena gara-gara kelompok syiah memberontak. Namun sekitar satu abad kemudian, sebuah masyhad yang luas dengan kubahnya dibangun disalah satu sudut makam Imam Husein. Sejak itu para peziarah pun kembali ramai. Keramaian itu tak lama; dua tahun kemudian, Dabba bin Muhammad As’adi, pemimpin sejumlah suku di ‘Ain tamr, tak jauh dari Karbala, menghancurkannya kembali.
Tapi, pada tahun yang sama, 369 H / 949 M , penyangga Masyhad Husein diperkuat kembali oleh Addud bin Abdullah dari Dinasti Bani Buwaihi. Pembangunan Masyhad itu diteruskan dengan membangun tembok makam oleh Hasan bin Buwaihi. Pada bulan Rabi’ul awal 407 H / 987 M, sekitar 38 tahun kemudian, bangunan utama dan beberapa ruang Masyhad terbakar.
Tapi makam yang dianggap suci dan keramat itu dibangun kembali. Setengah abad kemudian beberapa tokoh datang berziarah. Mereka itu, misalnya Sultan Malik Syah dari Bani Saljuk, yang berziarah pada tahun 479 H / 1059 M. kemudian Ghazan Mahmud dari Dinasti Ilikh Khan, Persia, bersama ayahnya, Argun. Mereka sempat membangun kanal untuk mengalirkan air sungai Eufrat ke Masyhad, yang kemudian dikenal dengan nama Nahr Al-Huseiniyah, “air suci Husein”.
Sultan Pasha Agung dari kekhalifahan Turki usmani ( 1520-1566 M ) sempat memperbaiki kanal tersebut dan memperindahnya dengan taman. Sementara Sultan Murad III ( 1574-1595 M ) pernah minta walikota Baghdad, Ali pasha bin Alwan, membangun sebuah ruangan di Masyhad Husein. Kemudian Radhiah Sultan Begum, putri Sultan Husein I dari Dinasti Safawi (1694-1722 M) mempekerjakan 20.000 orang untuk memperluas Masyhad Husein. Pada abad ke 18 M, Agha Muhammad Khan dari Dinasti Kajar menghadiahkan kubah dan menara berlapis emas untuk makam Husein.
Kompleks makam Imam Husein sangat luas, dua kali lapangan sepak bola. Di samping makam itu terdapat makam Sayyidina Abbas bin Abdul Muthalib, paman Sayyidina Husein dan Hurr bin Yazid.

Kata-kata Mutiara Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib ra :

“Kebutuhan orang-orang kepada kalian adalah merupakan nikmat-nikmat Allah swt untuk kalian; maka janganlah bosan terhadap nikmat-nikmat Allah swt itu sehingga ia akan pergi menjauhkan diri.”

“Orang yang berkeperluan tidaklah berarti memuliakan dirinya dengan tidak meminta kepadamu, maka dari itu muliakanlah dirimu dengan tidak menolak permintaannya.”

“Sabar adalah mahkota, kesetiaan adalah harga diri, memberi adalah kenikmatan, banyak bicara adalah membual ( omong kosong ), tergesa-gesa adalah kebodohan, kebodohan adalah aib, berlebih-lebihan ( dalam berkata ) adalah kebohongan, berteman dengan orang yang ahli berbuat hina adalah kejahatan dan berteman dengan ahli kefasikan adalah pusat prasangka buruk.”

“Bilamana dunia dianggap sebagai sesuatu yang sangat berharga,
maka sesungguhnya pahala Allah swt adalah lebih berharga dan lebih mulia,
Bilamana tubuh ini dirawat hanya untuk menyambut kematian,
maka terbunuhnya seseorang dengan pedang di jalan Allah swt lebih utama.
Bilamana rizki adalah bagian yang sudah ditentukan,
maka sedikitnya keserakahan seseorang dalam berusaha adalah lebih baik.
Bilamana harta benda dihimpun hanya untuk ditinggalkan,
maka apakah gunanya seseorang pelit terhadap sesuatu yang pasti ia tinggalkan,”

“Bilamana dirimu digigit oleh kekejaman masa,
maka janganlah kamu mengadu kepada manusia.
Dan janganlah kamu meminta selain kepada Allah Tuhan yang Maha penolong, yang Maha Tahu dan yang Maha Benar.
Karena seandainya kamu hidup dan kamu telah berkeliling dari belahan barat sampai kebelahan timur,
maka tentu kamu tidak menemukan seorangpun yang mampu membuat orang lain bahagia atau sengsara.”

Mimpi Berjumpa Rasulallah swt-Habib Munzir


قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
سَمُّوا بِاسْمِي، وَلَا تَكْتَنُوا بِكُنْيَتِي، وَمَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ، فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah saw : “Berilah nama-nama kalian dengan namaku, dan jangan memakai gelar seperti gelarku, dan barangsiapa bermimpikan aku dalam tidurnya sungguh ia telah melihat aku, maka sungguh syaitan tidak mampu menyerupai diriku, dan barangsiapa yg berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaknya ia bersiap akan tempatnya di neraka” (Shahih Bukhari)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَالْحَمْدُلله الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ الْمُبَارَكَةِ…
Limpahan puji kehadirat Allah Yang Maha Luhur, Yang Maha melimpahkan kebahagiaan sepanjang waktu dan zaman, sebelum zaman dicipta hingga zaman dicipta dan kemudian sirna, setiap generasi terlahir dan wafat kesemuanya di dalam pengaturan Sang Maha Tunggal dan Maha Abadi, samudera segenap ketentuan dan segala kejadian yang lalu dan yang akan datang berada dalam samudera kelembutan-Nya, di dalam samudera kasih sayang-Nya. Sungguh Allah subhanahu wata’ala sangat Maha Pengasih dan Maha Penyayang, seandainya Dia tidak berkasih sayang dan mau menghukum hamba-Nya sebab kesalahan-kesalahan mereka, sebagaimana firman-Nya:
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ ( النحل : 61 )
” Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya” ( QS. An Nahl: 61)
Maka jika Allah mau menghukum manusia karena kesalahan yang mereka lakukan, maka mereka tiadalah akan tersisa lagi di muka bumi ini, namun Allah menunda setiap nafas, setiap detik, dan hari demi hari (agar kita bertobat) hingga waktu yang telah Allah tentukan, yaitu sakaratul maut. Allah bersabar menanti kita, Allah bersabar untuk menunda siksa-Nya, dan tidak mau menghukum kita, Allah siap melimpahkan kemuliaan hingga sepuluh kali lebih besar dari kebaikan yang kita perbuat, bahkan hingga 70 kali lipat. Allah subhanahu wata’ala menuliskan satu perbuatan dosa hanya dengan balasan satu dosa, namun perbuatan baik Allah akan melipatgandakan balasannya dengan 10 kali pahala hingga 700 kali lebih besar, demikian dalam riwayat Shahih Al Bukhari, bahkan dalam riwayat Shahih Muslim bahwa setiap kebaikan akan dilipatgandakan balasannya 10 kali lebih besar hingga 700 kali dan lebih dengan kehendak Allah, berarti cinta kita kepada Allah dibanding dengan cinta Allah kepada kita 10 kali lebih besar cinta Allah kepada kita, bahkan 700 kali lebih besar dari cinta kita kepada Allah. Sekali kita beribadah dan berbakti kepada Allah maka sepuluh kali Allah subhanahu wata’ala berbakti kepada kita, maksudnya Allah berbakti kepada kita adalah mengganjar dan membalas dengan kebaikan, menyambut dengan kehangatan, sebagaimana yang dijelaskan di dalam kitab Taujih An Nabiih Limardhaati Baariih karangan guru mulia kita Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits qudsi:
ياَدَاوُد لَوْ يَعْلَمُ الْمُدْبِرُوْنَ عَنِّيْ شَوْقِي لِعَوْدَتِهِمْ ، وَمَحَبَّتِيْ فِيْ تَوْبَتِهِمْ ، وَرَغْبَتِيْ فِي إِناَبَتِهِمْ لَطاَرُوْا شَوْقًا إِلَيَّ ، يَادَاوُد هَذِهِ رَغْبَتِيْ فِى الْمُدْبِرِيْنَ عَنِّي ، فَكَيْفَ تَكُوْنُ مَحَبَّتِيْ فِى الْمُقْبِلِيْنَ عَلَيَّ…؟
“Wahai Daud : Seandainya orang-orang yg berpaling dari-Ku mengetahui kerinduan-Ku atas kembalinya mereka, dan cinta-Ku akan taubatnya mereka, dan besarnya sambutanku atas kembalinya mereka pada keridhoan Ku, niscaya mereka akan terbang karena rindunya mereka kepada-Ku. Wahai Daud, demikianlah cinta-Ku kepada orang-orang yg berpaling dari Ku (jika mereka ingin kembali), maka bagaimanakah cinta-Ku kepada orang-orang yg datang (mencintai dan menjawab cinta Allah ) kepada-Ku?”
Apabila mereka yang terus berdosa dan berbuat salah memahami betapa rindunya Allah kepada mereka apabila mereka mau kembali kepada kasih sayang dan keridhaan Allah, mau kembali kepada jalan keluhuran dan meninggalkan kehinaan untuk mendekat kepada Allah, jika mereka mengetahui betapa besarnya rindu Allah kepada mereka, betapa besarnya cinta Allah kepada taubat mereka dan betapa hangatnya sambutan Allah untuk mereka yang mau kembali kepada-Nya, jika mereka mengetahui hal itu sungguh mereka akan wafat di saat itu juga untuk menuju kepada Allah karena tidak mampu menahan rindu kepada Allah, karena Allah telah merindukannya, karena Allah telah mencintainya, maka mereka akan meninggalkan segenap dosa dan tenggelam dalam taubat dan kerinduan kepada Allah. Kita tidak mengetahuinya, namun paling tidak ada sedikit kefahaman di dalam jiwa dan sanubari bahwa ada Sang Maha Abadi Yang menanti kita dengan kebahagiaan yang kekal, Yang menyiapkan cinta, rindu dan sambutan hangat-Nya untuk mereka yang mau membenahi dirinya, maka berusahalah dan Allah tidak memaksa lebih dari kemampuan kita.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sebagaimana yang telah disampaikan oleh guru kita yang kita cintai, As Syaikh Amr Khalid tentang cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sampailah kita pada hadits agung ini:
سَمُّوا بِاسْمِى وَلاَ تَكْتَنُوْا بِكُنْيَتِي
” Berilah nama dengan namaku dan janganlah memakai kun-yahku “
Maksudnya dengan nama beliau nabi “Muhammad” shallallahu ‘alaihi wasallam, oleh sebab itu jika saya dimintai untuk memberikan nama maka pasti saya beri nama “Muhammad…..”, dan ada kelanjutannya, saya tidak pernah memberi nama dengan nama yang lain, walaupun nama nabi banyak namun sungguh nama yang terbaik adalah “Muhammad” shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga banggalah kelak mereka yang ketika dipanggil kehadapan Allah membawa nama nabi “Muhammad”. Namun perintah memberikan nama dengan nama nabi bukanlah perintah wajib melainkan sunnah menggunakan nama nabi “Muhammad”, dan Rasulullah melarang untuk memakai gelar beliau. Para Ulama berbeda pendapat dalam hal kun-yah (gelar) ini, sebagian mengatakan “Abu Al Qasim” dan larangan itu hanya ketika di masa hidupnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun gelar beliau yang tidak boleh digunakan hingga akhir zaman adalah gelar “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”, karena gelar ini hanya untuk nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para rasul, maka tidak boleh kita gunakan, namun gelar “Abu Al Qasim” atau yang lainnya boleh digunakan tetapi setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mengapa? karena pernah terjadi dimana seseorang di zaman Rasulullah memberi nama anaknya Qasim, maka si ayah dipanggil dengan sebutan “Abu Al Qasim” dan Rasulullah pun menoleh maka ketika itu Rasulullah melarang menggunakan gelar itu di masa hidup nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun di zaman sekarang tidak ada larangan. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
‏مَنْ رَآنِيْ فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِيْ
“Barangsiapa melihatku di waktu tidur maka dia benar benar telah melihatku, karena syeitan tidak dapat menyerupaiku”
Sungguh syaitan tidak akan bisa menyerupai bentuk Rasulullah, betapa indahnya wajah yang tidak mampu diserupai oleh syaitan, nabi kita sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Syaitan mampu berpura-pura menjadi guru, menjadi murid dan yang lainnya namun syaitan tidak bisa menyerupai wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Banyak pertanyaan yang muncul kepada saya tentang hal ini, “Habib, saya bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetapi wajahnya berupa wajah habib fulan atau kiyai fulan, apakah itu mimpi Rasulullah?”, iya itu adalah mimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, selama orang yang kita lihat itu adalah wajah orang yang shalih. Namun dijelaskan oleh beberapa habaib kita di Tarim Hadramaut, bahwa tidak ada seseorang dari kaum shalihin yang diserupai wajahnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali dia adalah wali Allah subhanahu wata’ala (orang yang dicintai Allah). “Habib, ada yang mimpi Rasulullah tetapi wajahnya kok gelap dan tidak bagus bentuknya, pincang atau cacat?!”, apakah itu juga mimpi Rasulullah?, hal itu adalah cermin dari diri kurang baiknya hati kita, karena hati kita adalah cermin, jika sebuah cermin terdapat banyak noda maka hasil dari cermin itu juga banyak noda, jadi apabila kita bermimpi Rasulullah dalam keadaan cacat maka yang cacat adalah hati kita, bukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan hal itu merupakan teguran dari Allah subhanahu wata’ala untuk mengingatkan kita. Diriwayatkan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani Ar di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa orang yang bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan melihat wajah asli beliau, namun hal ini tergantung derajat orang tersebut, para kekasih Allah dan para shalihin, mereka akan melihat wajah asli rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam mimpinya. Diriwayatkan pula oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani bahwa salah satu istri Rasulullah menyimpan sebuah cermin yang pernah ia gunakan, kemudian dipinjam oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau bercermin dengan cermin itu, setelah cermin itu dipakai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka cermin itu menampakkan wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam begitu jelas, cermin itu tidak mau lagi memunculkan atau mencerminkan wajah yang lain setelah digunakan bercermin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan jika istri Rasulullah ini rindu dengan Rasulullah setelah beliau wafat, maka ia melihat cermin itu dan ia lihatlah wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena cermin itu tidak mau lagi menampakkan wajah yang lain. Maka para tabi’in yang ingin melihat wajah Rasulullah mereka datang kepada istri Rasulullah dan melihat cermin itu sehingga mereka melihat wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Subhanallah, sebuah cermin pun tidak bisa lagi menjadi sebagai cermin setelah melihat wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dijelaskan di dalam buku “Muhammad Insan Al Kamil” oleh Al allamah Al Musnid Al Habib Muhammad bin ‘Alawy Al Maliki tentang perbedaan wajah nabiyullah Yusuf As dengan wajah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana dahulu di masa nabi Yusuf para wanita memotong jari-jarinya karena indahnya wajah nabi Yusuf As, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:
فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا هَذَا بَشَرًا إِنْ هَذَا إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ ( يوسف: 31 )
“Ketika perempuan-perempuan itu melihatnya , mereka terpesona kepada (keelokan rupanya) dan mereka (tanpa sadar) melukai tangannya sendiri, seraya berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia, sungguh ini adalah malaikat yang sempurna” (QS. Yusuf : 31 )
Maka berkatalah As Syaikh Muhammad bin ‘Alawy Al Maliki Ar menukil salah satu riwayat sahabat bahwa Allah tidak menampakkan keindahan wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara keseluruhan di muka bumi, hanya 1 keindahan dari 10 bagian yang diperlihatkan, jika seandainya yang 9 bagian itu ditampakkan juga maka orang-orang akan mengiris hatinya tanpa terasa karena indahnya wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan itu kelak akan diperlihatkan di telaga Haudh. Semoga aku dan kalian memandang wajah yang indah itu, amin.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa sayyidina Anas bin Malik Ra berkata:
مَا نَظَرْناَ مَنْظَرًا كاَنَ أَعْجَبَ إِلَيْنَا مِنْ وَجْهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Kami belum pernah melihat pemandangan yang lebih menakjubkan dari wajah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam”
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang banyak sekali dan sangat mudah dan suka mendoakan orang lain, dan beliau adalah makhluk yang paling indah, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa salah seorang sahabat Ra berkata: “aku belum pernah mendengar suara yang lebih indah dari suara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga suara beliau membuat hati luluh dan ingin mendekat kepada Allah subhanahu wata’ala”. Dan Allah berfirman dalam Al qur’an menyifati indahnya bacaan sang nabi :
قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآَنًا عَجَبًا ، يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآَمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا ( الجن : 1-2 )
“Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Rabb kami” ( QS. Al Jin: 1-2)
Dan Allah berfirman:
وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا ( الجن : 19 )
“Dan ketika hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya” ( QS. Al Jin: 19 )
Dijelaskan di dalam Shahih Muslim, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan membaca al qur’an dan di saat itu iblis melihat pintu-pintu langit ditutup dan tidak bisa lagi ditembus oleh iblis dan syaitan, maka di saat itu iblis berkata : “apa yang telah terjadi di barat dan timur sehingga kita tidak bisa lagi menembus langit?!”, maka ketika mereka mencari di penjuru barat dan timur, mereka pun menemukan cahaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang berdoa dan membaca al quran al karim, dan cahaya itu membuat para jin berdesakan untuk mendengarkan bacaan itu kemudian mereka beriman. Dan dijelaskan di dalam Kitab-kitab Tafsir, tafsir Ibn Katsir dan lainnya bahwa di saat itu ada beberapa raja jin yang diperintahkan oleh iblis untuk melihat apa yang terjadi, justru mereka beriman kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Para jin itu pun berdesakan ingin mendengarkan suara indah yang keluar dari jiwa yang suci dan khusyu’ yang merindukan Allah subhanahu wata’ala, jiwa yang dipenuhi dengan getaran iman. Oleh sebab itu, ketika salah seorang sahabat Ra (dalam riawayat yang tsiqah) melihat aurat seorang wanita dengan sengaja, maka ia merasa telah berbuat dosa yang sangat besar dan ia pun menyendiri ke atas gunung dan tidak mau lagi melihat wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena dia merasa tidaklah pantas matanya melihat wajah beliau karena mata itu telah berbuat zina. Dan setelah beberapa hari Rasulullah menanyakan orang itu karena beberapa hari Rasulullah tidak melihatnya, maka sayyidina Abu Bakr As Shiddiq Ra mendatanginya ke gunung dan berkata kepada orang itu: “engkau dipanggil oleh Rasulullah”, orang itu menjawab: “aku tidak mau melihat wajah Rasulullah, mataku tidak lagi pantas memandang beliau karena telah berbuat dosa”, maka sayyidina Abu Bakr berkata: “ini adalah perintah Rasulullah”, maka ia pun datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ketika itu Rasulullah sedang melakukan shalat maghrib, dan ketika ia mendengar bacaan Rasulullah dari kejauhan, ia pun terjatuh dan roboh karena tidak mampu mendengarkan lantunan suara indah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia diberdirikan oleh sayyidina Abu Bakr As Shiddiq dan dibimbing untuk terus masuk ke shaf shalat dan setelah selesai shalat, ketika orang-orang mulai berdiri dan keluar dari shaf shalat, ia hanya tertunduk saja, maka Rasulullah memanggilnya dan berkata :”kemarilah mendekat kepadaku”, ia mendekat hingga lututnya bersatu dengan lutut nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam namun ia tetap menundukkan kepalanya dan berkata: “wahai Rasulullah, aku tidak mau lagi melihat wajahmu karena mataku sudah banyak berbuat dosa”, maka Rasulullah berkata :”mohonlah ampunan kepada Allah”, maka ia berkata: “aku meyakini bahwa Allah Maha Pengampun, namun mata yang sudah banyak berbuat dosa ini tidak lagi pantas melihat wajahmu wahai Rasulullah”, ia masih terus menundukkkan kepalanya maka rsaulullah berkata : “angkatlah kepalamu!!”, maka ia pun mengangkat kepalanya perlahan lahan dan beradu pandang denga Rasulullah, lalu ia kembali menundukkan kepalanya dan menangis di pangkuan Rasulullah kemudian wafat dipangkuan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka para sahabat pun kaget dan iri dengan orang itu karena walaupun mereka berjihad siang dan malam namun mereka tidak sempat mendapatkan kesempatan untuk wafat dipangkuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ketika itu air mata Rasulullah mengalir dan jatuh di atas wajah orang itu. Hadirin hadirat, sungguh mata kita penuh dengan dosa dan kesalahan, namun Sang Maha Pengampun tidak berhenti mengampuni, sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ada 7 golongan yang mendapatkan naungan Allah dimana ketika itu tidak ada naungan kecuali naungan Allah, diatara 7 kelompok itu adalah :
رَجُلٌ ذَكَرَ اللهُ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
” Seseorang yang ketika berdzikir (mengingat Allah) maka mengalirlah air matanya”
Maka orang itu akan mendapatkan naungan Allah kelak di hari kiamat. Dan saat di surga kelak masih ada orang-orang yang belum melihat keindahan dzat Allah subhanahu wata’ala, mereka adalah orang-orang yang ketika di dunia mata mereka banyak berbuat dosa, dan malaikat tidak mau membuka tabir yang menghalangi dzat Allah dengan mereka, maka Allah berkata kepada malaikat: “mengapa kalian masih menutupkan tabir untuk mereka, mereka adalah penduduk surga yang telah kuampuni dosa-dosa mereka”, maka malaikat berkata: “wahai Allah, dahulu ketika mereka di dunia mata mereka banyak melakukan dosa, maka mereka tidak pantas memandang keindahan dzat-Mu”, maka Allah subhanahu wata’ala berfirman: “angkatlah tabir yang menghalangi-Ku dengan mereka, karena dahulu mata mereka pernah mengalirkan air mata rindu ingin berjumpa dengan-Ku”…
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا …
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ… مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Semoga Allah subhanahu wata’ala memulikanku dan kalian dengan keluhuran, dan membimbing hari-hari kita dengan seindah-indahnya, amin. Malam ini kita akan melakukan shalat ghaib untuk Al Marhum Al Maghfurlah Al Habib Syech bin Ahmad Al Musawa dalam usianya yang sangat lanjut, beliau adalah ulama’ besar yang murid beliau mencapai ribuan habaib dan kiyai, beliau tinggal di Klender selama kurang lebih 10 tahun kemudian pindah ke Surabaya dan wafat pada hari Jum’at yang lalu pukul 10.15 Wib. Dan yang tidak dalam keadaan berwudhu maka tidak perlu berdesakan untuk berwudhu, cukup berdiri saja. Shalat ghaib ini juga untuk syarifah Nur binti Abu Bakr Al Jufri dan juga untuk orang tua kita, kerabat kita, dan sahabat kita yang telah wafat. Semoga Allah subhanahu wata’ala memuliakan mereka di alam barzakh. Ayah bunda kita yang masih hidup semoga dimuliakan dan dipanjangkan usianya oleh Allah subhanahu wata’ala, amin allahumma amin. Dan imam dalam shalat ghaib nanti adalah guru kita fadhilah as sayyid Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas, dan juga saya mohon jangan berdesakan dalam bersalaman nanti. Sebelum kita melakukan shalat ghaib, kita tutup acara kita dengan qasidah yang mengingatkan kita kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beberapa bait, setelah itu kita melakukan shalat ghaib kemudian doa penutup, tafaddhal masykura.